Wednesday, February 29, 2012

Kisah Islam: Menemukan Hidayah Iman

Pergolakan Batin Meraih Hidayah-Nya
By. Nunu El Fasa

Tanpa banyak pertimbangan, entah kenapa dulu aku langsung menerima lamaran mas Danu. Padahal jelas-jelas aku tidak seiman dengannya yang orang muslim. Mama dan Papa juga tidak setuju dan hanya merestui kalo aku tetap memegang iman turunan keluargaku yang nasrani, oleh mas Danu diterima begitu saja padahal aku tahu iman mas Danu sangat kuat, kenapa mau menikah denganku yang non muslim?. Banyak juga teman-teman muslimahnya yang juga aku yakin lebih menarik daripada aku yang keturunan china. Dan anehnya dengan satu syarat mudah papa merestui hubungan kami. Mungkin yang menjadi nilai lebih, mas Danu adalah dari keluarga berada yang sederajat lebih tinggi dari keluargaku.
Kamipun menikah, tanpa embel-embel cinta yang bisa kuberikan kepada mas Danu. Sekian lama menikah hingga dikaruniai dua orang anak yang cantik dan sholeh, aku belum bisa melupakan cinta pertamaku kepada Hardian. Ruang hatiku sudah ditempatinya, tak sedikit tersisa untuk bisa ditempati mas Danu.
Aku dan Hardian berpacaran di masa SMA, dia laki-laki smart yang mampu membuatku mencintainya meski kami beda agama. Tanpa restu orangtua tapi kami berhasil menjalani hingga lulus SMA dan memutuskan kuliah di Surabaya. Sedangkan aku, papa tak inginkan aku kuliah di Surabaya. Aku menurut dan merelakan Hardian kuliah di Surabaya dengan Janjinya kembali ke kota untuk menikah denganku.
Aku sangat menanti janjinya, janji yang selalu kugenggam hingga tak kubiarkan cintaku mati. Tak inginkan orang lain menggantikannya meski papa selalu inginkan aku segera menikah. Duh Hardian, kau lupakah dengan yang kau janjikan? Sudah empat tahun lebih tapi tak pernah Hardian kembali dengan kabarnya.
Akhirnya, dia datang membawaku mengulang masa laluku. Tapi aku sadar, aku sudah bersuamikan mas Danu dengan dua orang anak yang masih butuh-butuhnya kasih sayangku. Aku kembali menaruh harapan dan kebahagiaanku kepada Hardian.
Dia, masih care seperti dulu, BBM yang selalu dia kirimkan sedikit mengurangi rindu yang masih kusimpan, tak pernah lupa setiap hari Hardian meneleponku. Ku akui aku masih cinta Hardian, ada rasa keinginan yang mendalam untukku bisa bersamanya kembali.
Seorang teman curhatku di masa SMA yang tahu tentang hubungan kami, sampai menasehatiku,
“Ingat Shel, Ingat sama suami dan anak-anakmu. Rahardian hanya kisah masa lalumu. Lagi pula kau kan sudah tau kalau dia juga punya lima anak dari dua mantan istrinya”
“Entahlah Tik, aku juga bingung. Hubunganku sendiri dengan mas Danu juga sedang tidak harmonis. Kau tau kan, baru dua hari ini aku pulang kerumah setelah dua bulan aku tinggal di rumah papa. Lagi-lagi pertengkaran kami dipicu oleh urusan keyakinan yang tidak ada ujungnya. Aku suda capek tik, capek! Sampai seminggu aku terkapar di rumah sakit, gara-gara memikirkan Hardian dan Permasalahan keluargaku”
“Iya Shel, aku ngerti”
“Kalaupun bukan karna anak-anakku dan janji mas Danu untuk tidak mengungkit-ungkit tentang keyakinanku dan putriku. Aku sudah menyusul Hardian ke Kalimantan”
“Shel, pliiiiiss dengarkan aku. Sekali ini aja! Kamu mau menggantungkan kebahagiaanmu dengan Rahardian yang tidak jelas hidupnya di Kalimantan?. Sementara kamu disini sudah hidup enak dengan keluargamu. Semua sudah dicukupi oleh mas Danu. Rumah, mobil, dan kebutuhanmu. Sedangkan di Kaltim, apa iya Rahardian masih seperti yang dulu setelah sekian tahun berpisah”
“Coba pikir deh Shel, dia sudah gagal menikah dua kali Shel. Sementara dia punya anak dengan mantan istri pertamanya yang seorang dokter di Surabaya. Dan dari Istri keduanya yang seorang penari memiliki dua anak. Lima anak Shel yang menjadi tanggungan Hardian. Apa kamu yakin bisa mengatasi lima orang anak tirimu nantinya. Dan lagi kalaupun Rahardian orang yang pantas untuk dicintai, kenapa mantan-mantan istrinya tidak berkenan ikut Hardian merantau ke Kalimantan. Malah, kudengar yang istri kedua pergi meninggalkannya. Sedangkan kamu, yang hidupnya sudah bahagia, ingin menyusulnya kesana."
“Kamu dengan mas Danu bukan tidak bahagia, tapi kamu yang tidak menghedaki dirimu bahagia bersama mas Danu. Cobalah buka sedikit hatimu untuk mas Danu, aku yakin kamu bisa bahagia bersama keluargamu”
Panjang lebar Etik memberi pemahaman tentang kondisi Rahardian dan aku yang sudah berkeluarga. Pikiranku sedikit terbuka, meski tidak kupungkiri masih terbesit rasa terhadap Hardian. Aaarrrggghhh….
Ada benarnya perkataan Etik, entah kenapa aku bisa berjanji sama Hardian untuk pindah memeluk Islam tapi kenapa tidak kepada mas Danu. Padahal jelas-jelas mas Danulah masa depanku. Hatiku sudah kututup dengan Rahardian dan aku yang harus membukanya untuk mas Danu.
Dan benar saja,
Suatu ketika hadir tetangga baru di tempatku dari Kalimantan. Yang ternyata dia juga satu lingkungan dengan Rahardian di Kalimantan. Awalnya aku tidak percaya, mungkin banyak yang memiliki kesamaan, bukan rahardianku. Dia menunjukkan foto Rahardian yang ku kenal. Iseng-iseng aku menanyakan kabarnya. Setelah dengan sengaja aku ganti nomor untuk menghindarinya sudah tidak lagi aku mendengar kabarnya.
“Oalah mba, Mas Dian disana sering gonta-ganti pacar. Wanita yang dibawa pulang selalu beda orangnya. Mungkin dia frustasi ditinggal sama istrinya dulu. Tapi emang benar sih istrinya, Lha wong mas Dian juga tidak perduli dengan Istrinya."
Astaga. Sebegitunyakah hidupmu disana Hardian? Apakah aku pantas jika aku masih mencintaimu sementara aku mengacuhkan cinta mas Danu yang jelas-jelas begitu menyayangi aku. Ternyata Tuhan sudah membuka kedua mataku, untuk merelakanmu. Aku bersyukur aku tidak salah mengambil keputusan mempertahankan suami yang begitu penyayang terhadapku.
Pelan-pelan aku bisa menerima mas Danu karena aku percaya mas Danulah imam keluargaku selama ini dan aku kembali mengikrarkan cintaku dengan dua kalimat syahadat dengan tuntunan Ustad Fauzi, teman mas Danu. Subhanalloh Kan ku genggam hidayah ini erat-erat selamanya, karena aku yakin mas Danulah Imamku dan Islam agamaku.
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan agamamu (Islam) dan Aku telah melimpahkan nikmat-Ku padamu, dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.” (Q.S. 5:3)[.]

Pengalaman seseorang yang telah diceritakan oleh seorang teman
Nunu El-fasa

NB : Ini bukan kisah saya, tapi pengalaman seseorang yang diceritakan teman kepada saya. Jadi tolong jangan dianggap kisah saya, saya hanya menuliskannya. Meski ini True Story tapi semua nama disamarkan. So, jangan dianggap ini kisahnya ustad Danu yang di TV itu yaa.. Hehehe maaph soalnya sering ada yang nanyain:D. Just the name, boleh sama dong tapi beda orangnya :D



12 comments:

  1. berat juga pergolakan batinnya....hmmm salam kenal mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. hehehehehehe,, salam kenal balik iezul :D

      Delete
  2. Subhanallah. . . ternyata Allah memberikan jalan bagi manusia berbeda cara satu sama lain. . . bersyukurlah mbak atas hidayah yang Allah berikan. . . mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kebahagiaan dan keiklasan dihati mbak nunu dan keluarga. . .

    ReplyDelete
    Replies
    1. Amiiiinnn... btw ini kisahnya temannya teman, bukan kisah saya lho! :)

      Delete
  3. postingan yang sangat menarik :)
    sangat bermanfaat.. ^_^
    keep posting yaa..

    ingin barang bekas lebih bermanfaat ?
    kunjungi website kami, dan mari kita beramal bersama.. :)

    ReplyDelete
  4. your post is nice.. :)
    keep share yaa, ^^
    di tunggu postingan-postingan yang lainnya..

    jangan lupa juga kunjungi website dunia bola kami..
    terima kasih.. :)

    ReplyDelete
  5. Tak kirain cerita pengalamannya mbak :P
    Hihihi~

    ReplyDelete
  6. maaf, Anda istrinya mas danu yang ustad di bengkel hati mnc bukan?

    ReplyDelete

Thanks for comming and no spam please

Follow
My twitter @ununtriwidana
My Instagram @nunuelfasa

Feel Free To Follow My Blog