Wednesday, July 02, 2014

Romantisme Iftar

Enggak mau di foto, jadinya nyingkur :p
Iftar atau berbuka puasa menjadi rutinitas musiman yang hanya terjadi di bulan Ramadhan. Musim yang sama yang terjadi di seluruh belahan bumi manapun dengan rutinitas iftar yang berbeda. Enggak terkecuali di keluarga kecil kami, moment iftar kami berbeda dari Ramadhan sebelum-sebelumnya. 

Jika tahun sebelumnya kami menikmatinya di rumah kontrakan atau di rumah ibu mertua, kali ini kami menikmati Ramadhan di rumah sendiri, rumah yang kami bangun atas rezeki Allah SWT. Sangat berbeda suasananya, kami lebih bersemangat menjalankan ibadah Ramadhan terlebih karena syukur kami dengan kemurahan Allah SWT.

Bila dibandingkan dengan rumah kontrakan, di sini masih ada areal terbuka hijau. Suasananya masih asri dan jauh dari hingar bingar kendaraan. 

Nah, di rumah ini, kami memiliki tempat favorit untuk menghabiskan senja. Yaitu tempat cuci baju dan jemur pakaian yang berada di samping rumah. Kerap keponakanku pun turut menghabiskan sore di sini sembari menghitung pesawat lewat. Yup, rumah kami memang jalur pesawat Bandara Juanda, Sidoarjo. 

Termasuk Ramadhan ini. Jika biasanya (di kontrakan atau rumah mertua) kami beriftar di depan televisi sambil menunggu adzan, suamiku mendapat ide untuk iftar di tempat favorit kami ini. Tau-tau pulang kerja langsung menuju samping sambil mengulurkan selang air membersihkan kotoran-kotoran ayam. Iyup karena tempat terbuka jadi banyak ayam berkeliaran yang bebas eek di mana-mana.

Di hari pertaman, karena kurang persiapan, kami menikmatinya dengan lesehan. Berbekal meja kecil dan dingklik yang biasa aku gunakan mencuci pakaian. Begitu paham dengan maksud suami, di hari kedua akupun menyambut idenya dengan mempersiapkan sebelum suami datang, bersih-bersih dan menatanya dengan kursi santai. Begitu suami pulang tinggal menata panganan dan minuman iftar.

Romantis sekali suasananya. Seperti moment candle light di senja hari tanpa lilin. Sambil ngobrol merencanakan agenda Ramadhan suami serta perbincangan lain. Enggak terasa, tahu-tahu sudah adzan saja. Karena kami memang menikmati suasananya. Melihat burung-burung kembali ke sarang, pesawat yang merendah akan landing di Bandara Juanda serta menggemanya suara adzan menjadi backsound yang benar-benar mendukung suasana. 

Sangat berbeda ketika kami melakukannya di dalam rumah, apalagi dengan menunggu adzan. Semakin ditunggu akan semakin lama. Waktu lima menit rasanya seperti menghitung pasir.

Iftar di alam terbuka seperti ini membuat kami lebih bisa memberi makna pada Ramadhan kami. Terbesit keinginan semoga di Ramadhan ini aku bisa ngadain iftar bareng di sini. Belum kepikiran dengan siapa, entah dengan kekuarga besar kami, anak-anak yatim, atau bahkan teman-teman blogger? Hua seru kali ya, apalagi dilanjut barbequean.

Hmmm... 

Bagaimana dengan iftar di keluarga kalian teman? 
Suami menata makanan, akunya motret :p

15 comments:

  1. apapun makanannya berbukalah dengan yang manis :-)

    ReplyDelete
  2. ifthar sy mash single mbak ....hehehe

    ReplyDelete
  3. seringnya berbuka dengan anak ,kecuai suamipas pulang cepat

    ReplyDelete
  4. wah asiknya...benar2 berkesan ya buka puasanya...

    kadang2 aja buka puasa diluar mba, palingan yg dekat rumah aja

    ReplyDelete
  5. aihh romantis banget ya mbak.. Apalagi udah tertata gitu hehe. Iyah memang enak ya kalau ngobrol ditempat terbuka sambil menikmati pemandangan :)

    ReplyDelete
  6. Iss.. Romantis banget sih, Mbaaak.. *sirik*

    Kalo aku buka puasa ya sukanya di dalem rumah aja.. Ambil makanan sendiri-sendiri.. Wkwkwk..

    ReplyDelete
  7. Suasananya itu lho mbak,kayaknya tenang gitu jauh dari suara kendaraan... Btw rumah bapakq di pinggir jalan raya solo - semarang, bisa dibayangkan betapa berisiknya :(

    ReplyDelete
  8. Subhanallah, sederhana tapi begitu bermakna :)

    Kapan bisa main ke tempatnya Mbak Nunu, ya?

    ReplyDelete
  9. Wooow jai ingat rumah Ibu di Kampung. Setiap mau buka bincang-bincang di belakang rumah sambil nikmati pohon melinjo dan kolam ikan.

    ReplyDelete
  10. Masya Alloh... Romantis banget mbak!! mau niru ah.. tapi saya nggak punya lahan yang terbuka kaya gitu. Masa mau di teras? :(

    ReplyDelete
  11. Jadi ini puasa pertama di rumah baru yah, Mbak Nunu:)
    Kebersaman yang menyenangkan sekali, suasananya dapat.

    ReplyDelete
  12. Mb Nunu, Toss,..!!
    Kami juga punya halaman belakang yang kami gunakan untuk tempat mengobrol-obrol sepulang kerja. Bahkan tempat ini kami manfaatkan jauh sebelum datang bulan ramadhan,..
    Ini ramadhan kedua kami di rumah milik sendiri, tahun lalu masuknya y pas sebelum bulan puasa,. :)

    ReplyDelete

Thanks for comming and no spam please

Follow
My twitter @ununtriwidana
My Instagram @nunuelfasa

Feel Free To Follow My Blog